aas

  • nakku lahir, suhu dalam negeri
    Tak kunjung stabil, kulihat tiada tanda-tanda
    p*nistaan akan berakhir, akal sehat
    Diperkosa, hei penjahat
    Apa rasanya

    Kubaca koran, mana yang berimbang
    Kini ku beralih ke televisi
    Jeremy Teti dan CCTV
    Di mana khilaf semua terekam
    Media sosial jadi ladang perang
    Kulihat ranjau di banyak postingan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Bunga dibakar di jalan
    Omongan di jalan, semua mengerikan
    Si penembak jitu di balik iklan

    Kupergi ke kiri, kupergi ke kanan
    Kuingin mencari sekadar peace of mind
    Barang sebentar, mungkin dua jam
    Dua hisapan, kuingin mengintip
    Masa depan, masa jalan
    Kurasa mencekam, kuucap takbir
    Aku khawatir sebentar lagi anakku lahir

    Aku terdampar di halte Busway
    Mampang Prapatan, 11 malam
    Kulihat uang di genggaman
    Hasil panggungan dari bar brengsek di wilayah Kemang
    Jakarta Selatan bagian
    Bajingan

    30 persen dipotong teman
    20 persen untuk minuman
    Yang tersisa kubawa pulang
    Tapi kurasa ini masih kurang
    Aku deg-degan jadi seniman
    Aku khawatir sebentar lagi anakku lahir

    Rasa memuncak, waktu bergerak
    Orang-orang waras semua tiarap
    Kulihat langit semakin gelap
    Kulihat parasit padat merayap
    Kuingat-ingat janji pernikahan
    Sehidup semati dalam suka
    Dalam duka, dalam tawa
    Dalam tangis, dalam manis
    Dalam pahit, dalam sakit
    Dalam sehat, dalam-dalam

    Kurasa kini bibirku pahit
    Tembakau keparat, harganya naik
    Ah sh*t, f*cking sh*t
    Ganja sintetik efeknya rumit
    Kupertanyakan batang yang terakhir
    Aku khawatir sebentar lagi bungaku lahir

    Lampu kota berpendar pelan
    Kurasa sinarnya mulai mengancam
    Gelombang pertanyaan mulai datang
    "Mau ke mana? Dari mana?"
    "Daftar di mana? Umur berapa?"
    "Ini Jakarta. Hei, kau mau apa?"

    Aku ingin mandi bir
    Kepalaku pusing
    Aku ingin mandi bir
    Kepalaku pusing
    Aku khawatir sebentar lagi anakku lahir

    7-Eleven terlalu terang
    Jelas Circle K bukan pilihan
    Ada sesuatu yang ingin kulanggar
    Entah peraturan, entah ketetapan
    Ah, persetan dengan keadaan
    Kucuri kesempatan dalam kesempitan
    Semoga halal, kuyakin halal
    Aku tak perlu fatwa mereka
    Mana yang suci, mana yang dosa?
    Hei, ini jauh lebih nyata
    Aku khawatir sebentar lagi anakku lahir

    Ekonomi keluarga
    Sayur asam dan pepaya
    Premi asuransi dan kuota
    Semua berjejer di kepala
    Ku tak percaya pada negara
    Satu tambah satu sama dengan tiga
    Ku tak berharap pada mereka
    Si Fadli Zon dan Fahri Hamzah
    Buanglah sampah pada tempatnya

    Sedangkan malam semakin dingin
    Keringat dingin deras mengalir
    Aku merinding, Kutub Utara
    Semakin mencair, aku merinding
    Aku khawatir sebentar lagi anakku lahir

    Masalah agama, masalah Si Kafir
    Lagi-lagi dia, dia-dia lagi
    Tuhan dipaksa turun ke jalan
    Seisi surga berpegangan tangan

    Aku khawatir sebentar lagi surgaku lahir
  • Gundah Gulana Pacar Aktivis

    Oh Mama lihatlah
    Pacarku yang kini jadi aktivis
    Oh Mama lihatlah
    Ia lebih peduli ibu pertiwi
    Sekarang ia membawa selebaran gelap
    Pacaran tidak romantis ngomongin politik
  • Iman Cadangan

    Sepasang pasang dalam pelarian
    Berharap cemas tak kehilangan
    Terlanjur janji direkam
    Terlanjur malam dikepung hujan
    Semakin buram arah jalan pulang

    Siapkan iman cadangan
    Setelah malam tenggelam
    Tinggalkan Jakarta
    Setelah malam tenggelam
    Tinggal kita berdua

    Menatap ujung jauh perjalanan
    Semakin jantung berdegup kencang
    Kirim cepat ambulan
    Berlama-lama berpegangan tangan
    Berpikir ulang tentang pilihan

    Siapkan iman cadangan
    Setelah malam tenggelam
    Tinggalkan Jakarta
    Setelah malam tenggelam
    Tinggal kita berdua

    Dan aku
    Memang tak ingin kembali
    Kini
    Kusaksikan saja
    Kan kutagih janjinya nanti

    Mmm, nanti
    Mmm, nanti
    Mmm
    Mmm, nanti